Sustainable Fashion Adalah : Kenali 5 Maknanya!

2 min read

Sustainable Fashion adalah

Industri di fashion tidak diragukan lagi eksistensinya. Memenuhi kebutuhan konsumen akan sandang, merupakan tanggung jawab produsen untuk membuatnya.

Kini, industri pakaian tidak hanya sekadar memuaskan pelanggan di sektor fisik tetapi juga memperhatikan bidang lingkungan. Singkatnya sustainable fashion adalah perhatian industry fashion selain di sektor fisik saja. Inilah 5 makna sustainable fashion:

Makna Sustainable Fashion

sustainable fashion adalah

1. Produk Yang Dihasilkan Ramah Lingkungan

Makna yang bisa dipahami dari pengertian sustainable fashion adalah ramah lingkungan terhadap produk yang dihasilkan. Produk ini dilihat dari berbagai bahan yang digunakan. Bahan yang aman seperti halnya dengan katun. Meskipun sebagian besar industri pakaian berasal dari benang yang dibalut menjadi kain, tetapi terdapat juga bahan yang menggunakan plastik. Sudah diketahui bersama, plastik merupakan benda yang tidak mudah terurai oleh tanah sehingga bisa mengakibatkan lingkungan tidak sehat.

Tentunya bahan plastik di industri pakaian tidak asing lagi. Bahan tersebut menjadi jenis kain yang diberi julukan nylon, acrylic, dan polyester. Bahan ini mengandung plastik yang apabila dicuci akan mengeluarkan plastik yang bermassa kecil. Meskipun kadarnya kecil, plastik ini akan mengalir bersama air dan bermuara ke laut sehingga terjadi penumpukan limbah yang berujung pada pencemaran. Oleh karena itu gunakan bahan yang mengandung serat alami tanpa adanya campuran pestisida.

2. Bahannya Bisa Jangka Panjang

Sustainable fashion mengandung banyak makna, termasuk di dalamnya ditujukan kepada konsumen. Sebagai seorang pemakai, sudah semestinya menerapkan konsep sustainable fashion. Konsep ini berlanjut pada pembelian pakaian dengan bahan yang awet atau bisa dipakai dalam waktu yang lama. Pembeli perlu mengestimasi soal kualitas bahan dan pemakaian yang tidak hanya sekali. Hal ini disebabkan makna terpenting sustainable fashion adalah memperhatikan prinsip awet dan hemat.

Lebih jelasnya, pemakai saat membeli pakaian tidak hanya sekadar mengikut trend semata. Pembeli yang cerdas akan mengutamakan model dan bahan yang nyaman dipakai. Besar kemungkinan juga, hal itu berdampak pada pembelian yang didasarkan pada kebutuhan semisal membeli model yang belum dimiliki. Jika tidak demikian, pilihan warna yang umum dipakai pada jenis pakaian yang belum dipunyai. Kondisi itu lebih baik daripada banyak membeli tapi tidak dipakai.

3. Tidak Minder Membeli Barang Bekas

Berbagai macam kemungkinan bisa terjadi dalam usaha industri pakaian. Salah satu diantaranya adalah hindari sifat minder atau tidak percaya diri membeli pakaian bekas. Sebab, biasanya dari pakaian bekas tidak bisa dipahami secara mentah hanya pada pakaian yang pernah dipakai. Akan tetapi lebih pada pakaian yang diperjualbelikan di pasar yang tradisional. Meskipun pada faktanya, membeli pakaian yang sesekali pernah dipakai bukanlah suatu kesalahan.

Faktor itu bisa menghemat pengeluaran biaya bagi konsumen dan tambahan pelanggan bagi si penjual. Alasannya, pembeli dapat membeli dengan harga yang cukup murah dibandingkan di pasar yang modern. Sedangkan penjual, dapat membuat estimasi soal keuntungan dari baju bekas dan menurunkan sedikit harga sesuai yang ada di pasaran. Apabila hal itu terjadi pelanggan bertambah karena harga lebih murah. Pembeli atau penjual bisa memanfaatkan sosial medianya untuk berpromosi.

4. Prinsip Daur Ulang Bahan Baju

Makna urgen dari sustainable fashion juga dilihat dari segi produksi, sama halnya dengan poin yang pertama tadi. Industri pakaian sebagai produsen harus bertanggung jawab pada limbah kain yang diproduksi. Sikap itu bisa ditunjukkan pada pemanfaatan limbah sebagai produk kerajinan tangan dan lain sebagainya. Produsen dituntut berinovasi dan memikirkan lebih jauh soal limbah kain. Apabila hal itu tidak dilakukan, pencemaran tidak bisa dihindari.

Prinsip itu dikenal dengan mendaur ulang limbah yang tidak terpakai lagi. Diantara cara yang bisa dilakukan adalah dengan membentuk pola yang tidak terlalu membuang banyak sisa kain. Kedua, memanfaatkan kembali sisa kain untuk digunakan produksi baju selanjutnya, misalnya sebagai kombinasi. Ketiga, memanfaatkan sisa kain untuk didaur kembali menjadi produk lain yang menguntungkan. Semua itu pada prinsipnya adalah meminimalisir limbah kain yang dapat mencemari lingkungan.

5. Minim Energi Saat Distribusi Barang

Tidak hanya terkait dalam segi produksi dan konsumsi, sustainable fashion juga merembet pada makna distribusi. Penyaluran barang dari produsen dan konsumen perlu dikonsep agar tidak terlalu banyak mengeluarkan polusi. Bagaimana polusi itu datang? Apabila produsen menyalurkan barangnya menggunakan kendaraan umum atau pribadi yang membutuhkan bahan bakar minyak. Belum lagi jarak yang ditempuh yang jauh, polusi akan bertambah banyak dari waktu ke waktu.

Maka diperlukan usaha untuk meminimalisir energi berupa bahan bakar minyak sebagai polusi udara. Akibat polusi, pencemaran lingkungan akan terjadi. Meskipun terlihat konyol dan tidak masuk akal karena tidak ada pilihan lain kalau tidak menggunakan kendaraan. Akan tetapi cara ini lebih meminimalisir energi yakni dengan cara memanfaatkan marketplace online. Pembeli bisa memesan dari rumah, barang pun akan datang. Setidaknya, hanya penyalur barang yang mengeluarkan energi sehingga lingkungan dapat asri.

Jadi, makna sustainable fashion adalah tidak terbatas pada kualitas di fisik, tetapi juga memperhatikan aspek lingkungan. 5 makna diatas memberi sedikit gambaran soal konsep sustainable fashion. Maka penting sekali untuk memahami pengertiannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.